HEADLINE

Ekonom prediksi inflasi Maret lebih tinggi, tapi masih sesuai target

          1 April 2026 09:19 WIB
Warga membawa sembako yang dibeli saat Pasar Murah Ramadhan 2026 di LApangan TGP Margoluwih, Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). Pasar murah yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman dan digelar di 6 titik hingga 10 Maret 2026 itu untuk menyediakan komoditas kebutuhan pokok dengan harga relatif terjangkau bagi masyarakat serta menekan inflasi yang biasa terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri. FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.

PRODEM1, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan tingkat inflasi Maret 2026 berpotensi sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata, didorong oleh inflasi komoditas pangan dan energi, tapi masih dalam berada kisaran target pemerintah.

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menyatakan, kenaikan harga kedua komoditas tersebut salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan permintaan selama periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah serta dampak dari gejolak geopolitik global.

“Karena ada efek Ramadan dan Lebaran, terus konflik geopolitik, (tingkat inflasi pada Maret 2026) ini sedikit lebih tinggi, tetapi masih dalam koridor (target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen) itu,” ucap Esther Sri Astuti saat dihubungi Prodem1 dari Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, terdapat tiga jenis inflasi yang berpotensi mendorong peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026, yakni demand-pull inflation, cost-push inflation, serta imported inflation.

Ia menuturkan, demand-pull inflation terjadi karena kenaikan permintaan barang dan jasa yang tinggi selama periode Ramadan dan Lebaran dibandingkan hari-hari biasa.

Sementara cost-push inflation salah satunya terjadi karena peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik, sehingga memengaruhi biaya produksi serta berdampak terhadap penyesuaian harga jual barang dan jasa.

“Ditambah lagi ini karena ada konflik geopolitik, jadi itu namanya imported inflation. Jadi, inflasi yang terjadi karena inflasi yang terjadi dari luar (negeri), bahan bakar susah (akibat perang di Timur Tengah), sehingga yang terjadi di luar itu menaikkan harga barang di Indonesia,” ujar Esther.

Baca juga: Harga BBM tidak naik, Pengamat: Langkah tepat redam inflasi

Baca juga: Analis nilai ekonomi domestik relatif stabil di tengah gejolak global

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan untuk mengumumkan laporan terkait inflasi Maret 2026 pada Rabu esok (1/4) pukul 11.00. Sedangkan inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat 3,55 persen year-on-year (yoy) dan pada Februari 2026 sebesar 4,76 persen yoy.

Terkait kenaikan harga BBM, PT Pertamina (Persero) mengumumkan pembaruan harga bahan bakar untuk beberapa wilayah tertentu yang berlaku mulai 1 Maret, dengan jenis BBM nonsubsidi Pertamax yang naik menjadi Rp12.300 per liter.

Di Jabodetabek, harga BBM jenis Pertamax (RON 92) tercatat naik ke angka Rp12.300 per liter dari Rp11.800 per liter, begitu pula Pertamax Green (RON 95) yang naik menjadi Rp12.900 per liter dari Rp12.450 per liter pada Februari 2026.

Baca juga: Memaknai “ekonomi” Lebaran di tengah badai geopolitik global

Baca juga: IMF: Operasi militer AS terhadap Iran berisiko dorong inflasi global

Baca juga: Turki batasi ekspor komoditas makanan imbas perang di Timteng

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: JMart
Copyright © PRODEM1 2026

Posting Komentar

0 Komentar

Get started Blogging

Get started Blogging

Create a site on blogspot for free...

Header Ads

ads header

Formulir Kontak

Jaga Ibu Pertiwi

Disini iklan anda

Iklan

Potensi Ekonomi

Potensi Ekonomi
Ekonomi

MGid

MGid
Iklan